Perjalananku pagi itu menuju Airport Soekarno-Hatta Jakarta ditemani tetes demi tetesan air yang perlahan membahasi bumi dengan begitu lembut. Hari itu adalah hari terakhirku berada di Kota seribu cerita tentang orang-orang yang begitu berani menentang kerasnya kehidupan didunia penuh drama dan sandiwara akan kejamnya senyuman dari tuan tak bernama.
Pagi itu aku menempangi kendaraan roda empat yang dikendarai oleh seorang Bapak yang sudah setengah usia dengan sejuta cerita yang terurai sepanjang jalan yang kami lalui. Kata demi kata nasihat akan kerasnya kehidupan terlontar dari Bapak bertopi dimana sudah terlihat polesan warna putih disekitar rambutnya, kulitnya sudah mulai menua yang tidak dapat dibohongi oleh waktu.
Percakapan bermula dari rasa ingin memecah kejenuhan menghabiskan waktu melewati lika-liku perjalanan panjang dari kerasnya kota seribu cerita ini. Percakapan akhirnya berakhir dari percakapan umum menjadi percakapan seorang ayah kepada anaknya. Cerita cinta seorang Ayah, rasa sakitnya, hingga cerita indah beliau tentang malaikat kecilnya yang telah hadir memberikan warna yang lebih indah dalam hidupnya yang menjadikannya sebagai seorang Kakek.
Menyenangkan berbagi cerita dengan sosok seperti beliau, sosok yang sangat rendah hati dengan nasihat yang sangat menyejukkan hati.
Entah kenapa nasihat dari beliau tentang hidup ini begitu teringat dalam benak dan fikiranku lalu membuatku memutuskan untuk menuliskan kisahku dalam perjalananku kali ini.
"Dulu, waktu Bapak masih muda, Bapak juga sama seperti kalian. Ga mau dkekang, marah ketika dilarang, melakukan hal yang pengen Bapak lakukan padahal justru membuat orang tua Bapak khawatir. lalu, setelah Bapak menjadi orangtua sekarang, Bapak merasakan rasa Sakitnya ketika dilawan oleh anak sendiri. Rasanya itu sakit sekali".
Mendengar kata-kata itu terlontar dari beliau, rasanya seperti diri ini dihujani oleh rasa dosa akan apa yang telah dilakukan terhadap orangtuaku. Teriris rasanya hati ini, menangis rasanya. Kata-kata berikutnya yang terlontar dari dari beliau semakin mendohok diri yang hina ini. Malu sekali rasanya.
"Jangan pernah tingggalkan sholat ya Nak. Orang yang berani meninggalkan sholat berarti juga berani menentang perintah Allah yang lainnya termasuk omongan orang tua sendiri. Ingat Nak, Sholat itu menjaga kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang sudah dianggap biasa oleh orang-orang sekitar kita dizaman yang semakin aneh saja semakin hari".
Aku hanya bisa terdiam hening tidak tau harus berkata apa. hatiku teriris berkata "Ya Allah, Maafkan hamba-Mu yang tidak tau diri ini yang telah lalai menjaga sholatku". Perjalanan yang panjang ini akhirnya mengantarkanku di Airport 1B Bagian Keberangkatan Bandara Soekarno Hatta - Jakarta.
Tiada kata yang dapat mengukir rasa terima kasih atas nasihat serta teguran langsung dari Allah yang menyadarkanku untuk selalu bersyukur bahwa kasih sayang Allah itu dekat bahkan lebih dekat dari detak jantung dan hembusan nafas kita.
Terima kasih untuk kota seribu cerita yang mengajarkanku untuk tetap selalu belajar dan terus belajar.
- The End -
Blog ini adalah tuangan imaginasi, mimpi, asa, pengalaman, cinta dan jatuh bangunnya dalam menjalani hidup.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Review SBS Resort Barelang – Batam
Assalamualikum J Hari ini saya akan membahas review seputar SBS Resort Barelang. Sebelum review lebih lanjut, lokasi SBS ny...
-
Sabar. Mungkin itu adalah hal yang paling dibutuhkan untuk keadaan seperti sekarang ini. Yups, keadaan keluargaku memang sedang rumit se...
-
Hi Assalamualaikum, welcome back to my blog :) Hari ini saya akan sharing foto-foto dan video tempat-tempat recomended yang cantik ba...
-
Hi Assalamualaikum Wr.Wb. Hari ini saya akan share Bagaimana cara Trip satu hari Batam-Singapore dan bisa menjelajahi tempat - tempat sep...