Untaian cuplikan kata diatas sangat sederhana namun begitu sarat akan makna. Yes, it's so deep.
kenapa bisa seseorang bisa mencintai orang lain hingga terus memberi yang ia miliki hingga tidak ada yang tersisa untuk dirinya sendiri. Miris sekali rasanya menjadikan rasa yang seharusnya diberikan terlebih dahulu dan pertama untuk diri sendiri.
Ya, banyak yang bilang ketika kamu jatuh cinta kamu akan mencintai seseorang setulus hati kamu. Yup, ga ada yang salah dalam memcintai, you are Free in falling in Love and also the way you love someone. Tetapi, ingat sesuatu yang berlebihan juga tidak baik kawan, bahkan jika kamu sampai kehilangan dirimu dalam mencintai.
Banyak orang yang justru lupa caranya mencintai dirinya sendiri sangking asyiknya mengagumi seseorang. Dan ini bahaya, kamu hanya akan membandingkan diri kamu dengan orang yang kamu anggap sempurna, namun tidak bisa melihat kelebihan yang ada dalam diri kamu. Hal ini terjadi karna, kita tidak pernah benar-benar bercermin pada kelebihan yang ada pada diri sendiri, yang terlihat hanya kekurangan, mulai dari kulit yang kurang cerah, tinggi badan yang kurang tinggi, bentuk hidung yang kurang mancung wajar aja coy kita orang Timur bukan orang Barat, lengan tangan, jidat, sampe menahan makan hanya untuk terlihat proposional dimata orang lain dan mungkin dimata orang yang kamu taksir mungkin.
Well, kalo difikir-fikir aku juga dulu gitu si waktu zaman SMA selalu ngeliat kekurangan dan kekurangan dalam diri sendiri, setiap kali didepan kaca yang aku liat itu cuman kekurangan yang ada dalam diri sendiri, ya mulai dari bentuk hidung yang minimalis banget sampe bentuk jidat yang kok lebar banget ya sampe harus ditutup-tutupin pake poni ala-ala cerrybelle. Setiap kali main bareng sama temen yang difikirin bentuk muka, poni dan lain-lain. Nggak pernah bisa percaya diri sama yang ada dalam diri sendiri. Sampai pada akhirnya, sampai disatu titik dimana setelah aku liat Vlog nya kak Gita Savitri di Youtube dan aku tersadarkan oleh mindset / pola fikir yang aku sudah bangun berpuluh-puluh tahun.
Emang jidat ada ukuran idealnya ya yang bagus itu kayak gimana, warna kulit kalo gelap itu jadi ga keliatan menarik gitu, atau ukuran tubuh yang agak berisi tidak terlihat bagus gtu?
Yap, semua itu memang tidak ada ukuran untuk tingkat kecantikan untuk semua orang, kamu itu sempurna, just the way you are.
Banyak orang yang justru lupa caranya mencintai dirinya sendiri sangking asyiknya mengagumi seseorang. Dan ini bahaya, kamu hanya akan membandingkan diri kamu dengan orang yang kamu anggap sempurna, namun tidak bisa melihat kelebihan yang ada dalam diri kamu. Hal ini terjadi karna, kita tidak pernah benar-benar bercermin pada kelebihan yang ada pada diri sendiri, yang terlihat hanya kekurangan, mulai dari kulit yang kurang cerah, tinggi badan yang kurang tinggi, bentuk hidung yang kurang mancung wajar aja coy kita orang Timur bukan orang Barat, lengan tangan, jidat, sampe menahan makan hanya untuk terlihat proposional dimata orang lain dan mungkin dimata orang yang kamu taksir mungkin.
Well, kalo difikir-fikir aku juga dulu gitu si waktu zaman SMA selalu ngeliat kekurangan dan kekurangan dalam diri sendiri, setiap kali didepan kaca yang aku liat itu cuman kekurangan yang ada dalam diri sendiri, ya mulai dari bentuk hidung yang minimalis banget sampe bentuk jidat yang kok lebar banget ya sampe harus ditutup-tutupin pake poni ala-ala cerrybelle. Setiap kali main bareng sama temen yang difikirin bentuk muka, poni dan lain-lain. Nggak pernah bisa percaya diri sama yang ada dalam diri sendiri. Sampai pada akhirnya, sampai disatu titik dimana setelah aku liat Vlog nya kak Gita Savitri di Youtube dan aku tersadarkan oleh mindset / pola fikir yang aku sudah bangun berpuluh-puluh tahun.
Emang jidat ada ukuran idealnya ya yang bagus itu kayak gimana, warna kulit kalo gelap itu jadi ga keliatan menarik gitu, atau ukuran tubuh yang agak berisi tidak terlihat bagus gtu?
Yap, semua itu memang tidak ada ukuran untuk tingkat kecantikan untuk semua orang, kamu itu sempurna, just the way you are.
Berhentilah membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, nobody's perfect. Semua orang punya kekurangan dalam diri mereka sendiri, namun yang buat dia dan kita berbeda adalah dia bisa menerima semua kekurangan yang ada dalam dirinya sendiri dan dia menikmati hidupnya, dan itu yang harus kita pelajari. Belajar untuk melihat kekurangan yang ada dalam diri sendiri dan buat kekurangan itu jadi kelebihan buat diri sendiri.
Dan mulai sekarang belajarlah untuk mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Ingat selalu, ketika kamu ingin melihat orang yang akan selalu bersama kamu sampai akhir waktu berdirilah didepan kaca, lalu lihatlah siapa yang ada dipantulan kaca itu.
Yes, yourself! oleh karna itu cintailah orang lain setelah kamu telah berhasil mencintai diri kamu sendiri. Karna ketika kamu berhasil menerima kekurangan yang ada dalam diri sendiri kamu akan merasakan perubahan tentang mindset / pemikiran yang telah bertahun-tahun kamu bangun dalam hidup kamu.
Dan ternyata tidak ada yang aneh. Yap, Allah itu pencipta yang Maha Sempurna. Ia selalu tau porsi yang pas dan cocok untuk umatnya. Tinggal kita saja yang melihat sesuatu dari pola fikir yang berbeda, selalu bersyukur dan belajarlah menghargai dirimu sendiri.
Dan mulai sekarang belajarlah untuk mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Ingat selalu, ketika kamu ingin melihat orang yang akan selalu bersama kamu sampai akhir waktu berdirilah didepan kaca, lalu lihatlah siapa yang ada dipantulan kaca itu.
Yes, yourself! oleh karna itu cintailah orang lain setelah kamu telah berhasil mencintai diri kamu sendiri. Karna ketika kamu berhasil menerima kekurangan yang ada dalam diri sendiri kamu akan merasakan perubahan tentang mindset / pemikiran yang telah bertahun-tahun kamu bangun dalam hidup kamu.
Dan ternyata tidak ada yang aneh. Yap, Allah itu pencipta yang Maha Sempurna. Ia selalu tau porsi yang pas dan cocok untuk umatnya. Tinggal kita saja yang melihat sesuatu dari pola fikir yang berbeda, selalu bersyukur dan belajarlah menghargai dirimu sendiri.

